Di tengah riuhnya pagi anak-anak yang bersiap senam di halaman sekolah SDIT Mentari Ilmu Jatisari, saya bertemu dengan sosok laki-laki sederhana—berkacamata, berusia sekitar enam puluh tahun, dengan senyum yang tenang. Kami berbincang, awalnya ringan, seputar tempat tinggal dan keluarga. Namun, siapa sangka, dari pertemuan singkat itu, saya mendapatkan pelajaran hidup yang begitu mendalam—tentang menjadi orang tua, tentang integritas, dan tentang cinta tanpa syarat.
Beliau adalah pensiunan guru dari sebuah sekolah negeri di Sukamandi, Subang. Kini, ia masih aktif menjadi pelatih ekstrakurikuler Bahasa Inggris di sekolah kami. Dalam percakapan kami yang hangat dan akrab, beliau mulai bercerita tentang ketiga anaknya—bukan untuk pamer, tapi seolah ingin berbagi nilai yang telah ia tanamkan selama ini.
Anak pertamanya adalah pengusaha multivitamin yang telah menembus pasar ekspor hingga ke Singapura. Sebelum sampai ke titik itu, ia sempat membangun bisnis travel dan menjelajahi berbagai negara. Dari perjalanan itulah, ia melihat peluang yang kemudian menjadi pintu kesuksesan. Namun yang membuat saya terdiam bukanlah kisah bisnisnya, melainkan prinsip hidup sang ayah: bahwa tidak boleh ada satu pun rezeki haram yang masuk ke rumah. Prinsip itu ia pegang teguh sepanjang membesarkan anak-anaknya.
Anak kedua pernah bekerja di Dubai di bidang perminyakan dan kini tinggal di Jakarta bersama keluarganya. Beliau bercerita, dulu anak ini sering meletakkan sepatunya sembarangan saat pulang sekolah. Ia tidak pernah marah, hanya dengan sabar mencarikan sepatu itu setiap hari. Cerita yang sederhana, tapi begitu dalam. Di situlah kasih sayang tanpa syarat terwujud—dalam tindakan kecil yang penuh kesabaran.
Anak ketiga sempat mengalami masa pencarian pasca kuliah. Tak langsung mendapatkan pekerjaan seperti dua kakaknya, ia akhirnya memutuskan belajar digital marketing di Singapura dengan dukungan kedua kakaknya. Ia berangkat sendiri, mencari tempat tinggal dan universitas bermodalkan tekad dan kemampuan Bahasa Inggris. Kini, ia bekerja di Jakarta dan dipercaya menjadi ambassador salah satu brand produk kecantikan ternama.
Pertemuan singkat ini, di tengah pagi yang biasa, berubah menjadi momen reflektif bagi saya. Ada empat pelajaran besar yang saya petik dari sosok ayah ini:
1.Kesederhanaan yang Menyimpan Nilai-Nilai Besar
“Don’t judge a book by its cover” sangat tepat menggambarkan beliau. Di balik penampilan yang sederhana, tersimpan keteguhan hati, kebijaksanaan, nilai hidup yang luhur, semangat hidup dan prinsip yang kuat. Walaupun telah mapan secara materi, ia tetap aktif berbagi ilmu, menolak bergantung pada siapa pun—bahkan kepada anak-anaknya sendiri.
2.Kejujuran dan Integritas adalah Warisan Abadi
Rezeki yang halal dan menjaga diri dari hal yang bukan haknya menjadi prinsip dasar keluarga ini. Nilai-nilai itu tidak hanya diwariskan, tapi juga diwujudkan dalam kehidupan nyata anak-anaknya.
3.Menjadi Orang Tua yang Hadir Sepenuhnya
Sosok ayah ini hadir bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional. Ia mendampingi, menyimak, memahami, dan yang terpenting: selalu mendoakan. Kehadirannya menjadi tempat bertumbuh yang aman bagi anak-anaknya.
4.Membekali Anak untuk Menjelajahi Dunia
Ia sadar, kemampuan berbahasa adalah jembatan untuk membuka cakrawala dunia. Bahasa Inggris bukan sekadar pelajaran sekolah, tapi bekal untuk menjadi masyarakat dunia dan mengenal luasnya ciptaan Allah, sekaligus menanamkan rasa syukur atas keagungan-Nya.
Pertemuan ini terasa seperti sapaan lembut dari langit. Betapa pentingnya menjadi orang tua yang tidak hanya memberikan nafkah, tapi juga menanamkan nilai, membersamai dengan cinta, dan mendoakan dengan tulus. Kebahagiaan sang ayah tidak tampak dari harta atau status, melainkan dari ketenangan wajahnya—wajah seorang ayah yang merasa hidupnya berarti karena menjalani peran sebagai orang tua dengan sepenuh hati.
Di akhir percakapan, saya hanya bisa mengucap terima kasih. Terima kasih atas kisah yang menginspirasi. Terima kasih atas kesetiaannya membersamai dan mendampingi murid kami. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang bukan hanya melahirkan, tetapi juga membesarkan dengan cinta, mengarahkan dengan hikmah, dan mendoakan tanpa henti.
Semoga Allah menjaga keluarga beliau, dan mempertemukan kembali seluruh anggotanya di Jannah-Nya kelak.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
Ditulis oleh: Rosadi
Catatan Penulis:
Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis dan disampaikan untuk menginspirasi para orang tua, guru, dan siapa pun yang terlibat dalam proses mendidik generasi.